[CHAPTER 13] Be My Girl!

Now every little thing becomes clear
This feeling is definitely love…

AERIN masih berusaha menetralkan debaran jantungnya yang tak terkendali. Ia sudah kembali ke apartment-nya sendiri, tetapi rasa syoknya masih belum hilang. Dia menghela napas dengan hati-hati, berharap bisa sedikit membantu menghilangkan kegugupannya.
Kilasan kejadian beberapa menit yang lalu kembali terbesit di kepala Aerin. Ia merasa pipinya memanas ketika mengingat Cho Kyuhyun memeluknya tadi.


“Apakah sekarang hatimu berdebar?”

 

Pertanyaan itu terus menerus membuatnya berpikir. Kyuhyun bilang, jika Aerin mau memikirkan jawabannya, maka mudah untuk mengetahui perasaannya pada pria itu.
Aerin tak mengelak jika dia terpesona pada pria itu. Tatapan matanya yang tajam, suara lembutnya, dan segala perbuatan-perbuatan aneh Cho Kyuhyun tadi sukses membuatnya jantungnya berdetak tanpa kendali. Lalu, ketika pria itu memeluknya, dia merasa seolah partikel-partikel tubuhnya membeku. Tapi apakah itu artinya ia menyukai Cho Kyuhyun?

Apakah memang sesederhana itu kesimpulannya?

“Aku bisa gila,” gumamnya menyerah, lalu menghempaskan tubuhnya kasar ke atas kasur. Ia mencoba menutup matanya, meskipun otaknya masih terus berputar mencari jawaban.

 

 

“Bagaimana Kyukyu? Apakah rencanamu berjalan lancar? Apa gadis itu menyukaimu juga?” Kyuhyun mendesah pelan. Ia baru saja sampai di dorm dan Donghae langsung menyeretnya masuk ke kamar dan memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku belum tahu, hyung. Gadis itu masih ragu, kupikir.”

“Maksudmu?”

“Terkadang aku merasa dia juga menyukaiku. Lalu tiba-tiba dia berubah menjadi kikuk, seolah risih jika berdekatan denganku. Tapi bisa saja itu karena dia belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya,” jelas Kyuhyun sembari merebahkan tubuhnya ke atas kasur Donghae. “Kau tahu hyung, aku hampir gila rasanya. Jantungku tak bisa normal jika berdekatan dengan gadis itu.”

Ingatan Kyuhyun kembali melayang ke kejadian tadi. Ia tersenyum kecil, memeluk Kim Aerin membuatnya merasa ia bisa melakukan segala sesuatu dengan benar.

Donghae terkekeh melihat tingkah dongsaeng-nya itu. Ia masih tak percaya bahwa seorang Cho Kyuhyun bisa menjadi seperti ini gara-gara seorang gadis. “Whoa, uri Kyuhyunnie sudah dewasa,” katanya geli. “Ah, ya, Kyu, kuberitahu satu hal. Jika kau ingin mengetahui perasaan seorang gadis, cobalah mengujinya.”

Spontan Kyuhyun langsung terduduk, dahinya mengernyit bingung. “Apa maksudnya, hyung?”

Donghae menyeringai lalu membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun.
***
“Sebenarnya apa yang pria itu lakukan padamu semalam?” tanya Hyun-Mi di sela-sela kegiatan keduanya yang sedang mengerjakan tugas perkuliahan.

“Bagaimana ya menyebutnya?” jawab Aerin setengah malas. “Ah, mungkin melakukan-hal-hal-yang-akan -membuatku-berdebar.”

Hyun-Mi memutar bola matanya. “Hah, apa-apaan itu? Lebih tepatnya, apa yang dilakukannya?”

Aerin menghentikan kegiatan menulisnya sejenak, lalu menceritakan kejadian kemarin pada Hyun-Mi. Dan sudah bisa ditebak, hampir saja sahabatnya itu berteriak jika saja Aerin tidak mengingatkan bahwa mereka sedang berada di perpustakaan.

“Astaga, dia benar-benar serius,” ujar Hyun-Mi dengan pekikan tertahan. Ia tak menyangka bahwa pria dingin macam Cho Kyuhyun bisa melakukan semua ini untuk seorang gadis. “Lalu apa jawabanmu?”

“Belum tahu,” tukas Aerin singkat, lalu berusaha berkonsentrasi pada buku referensi di hadapannya.

“Kalau begitu lekas cari tahu, Kim Aerin!” seru Hyun-Mi dan sukses membuat beberapa pasang mata memandangi keduanya dengan tatapan kesal. Gadis itu buru-buru berdeham, lalu menurunkan volume suaranya. “Ayolah, kau hanya harus membiarkan perasaanmu yang bekerja. Hentikan kebiasaan memikirkan segala hal dengan otakmu yang pintar itu, Nona Kim.”

Aerin menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tak melanjutkan tugasnya lagiㅡmendadak otaknya buntu. Aerin memandangi Hyun-Mi dengan tatapan putus asa. “Kau tahu, aku mengakui aku memang sudah merasa aneh sejak peristiwa ciuman itu. Dan tadi malam, aku sadar bahwa aku terpesona pada pria itu. Tentu sajaㅡmaksudku, gadis mana yang tidak luluh jika diperlakukan seperti itu?”

Hyun-Mi mendengarkan dengan diam. Ia tahu Aerin butuh mengungkapkan seluruh isi hatinya agar bisa sedikit tenang. Sahabatnya itu memang selalu bermasalah dengan ke-overthinking-annya.

“Tapi kemudian aku berpikir; apakah memang semudah itu? Apakah hanya karena aku berdebar-debar padanya itu mengindikasikan bahwa aku menyukainya? Dan lagi masih banyak hal yang membuatku ragu. Bagaimana bisa pria itu menyukaiku? Sejak kapan dan mengapa? Dia tak pernah menjelaskannya dan apakah salah jika aku takut dia hanya mempermainkanku?”

Jadi itu alasannya, gumam Hyun-Mi dalam hati. Ia sungguh memaklumi jika Aerin berpikir demikian. Bagaimanapun juga, ini kali pertama bagi sahabatnya itu. Selama ini, Aerin selalu menolak dengan halus ajakan kencan dari teman-teman prianya. Dan sejauh yang diketahui Hyun-Mi, hanya Cho Kyuhyun yang berhasil masuk ke dalam kehidupan sahabatnya itu lebih jauhㅡmeskipun  sepertinya Aerin sendiri tak menyadarinya.

Ia memegang tangan Aerin sembari tersenyum. “Kau tidak salah, Aerin-a. Hanya saja, saranku, lebih baik kau temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu itu secepatnya. Kyuhyun bilang dia tak suka menunggu bukan? Ingat, jangan sampai kau menyesal.”

Aerin tersenyum lemah. Ia buru-buru membereskan buku dan peralatan tulisnya, lalu berdiri dari kursinya. “Kau mau minum cokelat? Kurasa otakku sedang buntu sekarang. Aku bahkan tak bisa melanjutkan essayku.”
***
Sudah beberapa hari sejak kejadian di apartment Kyuhyun waktu itu, Aerin sama sekali belum bertemu lagi dengan pria itu.
Dan sepertinya Cho Kyuhyun juga tidak punya niatan untuk sekedar meneleponnya atau bahkan bertemu dengannya. Bagaimanapun, permasalahan mereka belum selesai.


Ugh
, desah Aerin dalam hati. Apa yang kauharapkan sebenarnya, Kim Aerin?

Aerin ke luar dari lift dengan langkah lunglai, dan beberapa saat kemudian ia hampir terkesiap ketika melihat sosok yang baru saja melintas di pikirannya itu sedang berdiri di pintu apartmentnya.

“Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Kim Aerin sedang memandanginya dengan tatapan bingung. Astaga, ingin rasanya Kyuhyun memeluknya saat ini. Ia sangat merindukan gadis itu. Tetapi untung saja akal sehatnya masih bekerja.

“Apa apa kemari?” suara Aerin membuat Kyuhyun kembali tersadar.

“Aku hanya mampir sebentar untuk mengambil ini,” Kyuhyun mengangkat tumpukan kertas di tangannya. “Lalu aku ingat bahwa Donghae hyung mengundangmu untuk hadir di pesta ulang tahunnya nanti malam. Jadi kupikir aku bisa sekalian memberitahumu.”

Aerin mengangguk-angguk kecil lalu tersenyum ke arah Kyuhyunmembuat pria itu berusaha keras menahan kakinya untuk tidak berlari ke arah Aerin dan memeluknya saat itu juga. “Hyun-Mi sudah memberitahuku sebelumnya. Tetapi terima kasih, Kyuhyun-ssi.”

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu,” pamit Kyuhyun dengan sopan. “Selamat malam, Aerin-ssi,” ujarnya lalu melenggang pergi, meninggalkan Aerin yang kini mematung dengan wajah terkejutnya.


Hanya begitu saja?
batin Aerin berteriak. Tidakkah kau merasa harus menjelaskan sesuatu padaku, Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat?

Ia membuka pintunya dengan kasar. Sungguh Aerin tidak mengerti kenapa dia bisa sekesal ini.
***
“Aerin-a, bagaimana penampilanku?”
Aerin tertawa kecil. “Sudah kesekian kalinya kau menanyakan hal itu, Hyun-Mi-a. Dan untuk kesekian kalinya pula kukatakan padamu, kau sudah cantik,” selorohnya dan berhasil membuat Hyun-Mi terkekeh.

“Kau tahu aku ingin terlihat sempurna di depan Donghae oppa. Baiklah, ayo masuk,” kata Hyun-Mi sembari menggandeng tangan Aerin.

Keduanya memasuki salah satu bar dan restoran termewah di Seoulyang sepertinya sudah disewa khusus untuk perayaan ulang tahun Lee Donghae. Aerin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan ia merasa sedikit gugup. Ada banyak orang di dalam, beberapa di antaranya tentu saja para anggota Super Junior. Lalu ia mengenali wajah beberapa orang dari acara-acara musik di televisi. Singkatnya, hanya dirinya dan Hyun-Mi yang merupakan orang biasa di ruangan ini.

Aigoo, tamu spesial Lee Donghae sudah datang rupanya,” goda Leeteuk ketika keduanya menghampiri Donghae untuk mengucapkan selamat ulang tahun. “Selamat datang Aerin-ssi dan Hyun-Mi-ssi. Silakan nikmati pestanya.”

Mulanya Aerin sedikit cemas ketika Donghae berkata bahwa ia hendak meminjam Hyun-Mi untuk menemaninya menyambut para tamu. Namun sekarang, ia sedikit merasa rileks ketika Eunhyuk dan Ryeowook menghampirinya yang sedang duduk di konter bartender dan mengajaknya mengobrol.

“Aerin-ssi kau terlihat cantik malam ini,” puji Ryeowook tulus, dan dibalas ucapan terima kasih oleh Aerin.

“Oh, ya, omong-omong kau sedang dekat dengan Kyuhyun?” tanya Eunhyuk.

Aerin terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia menyeruput jus jeruknya pelan. “Ti-tidak,” ujarnya kemudian.

Eunhyuk tidak terlihat percaya dengan jawaban Aerin. Baru saja pria itu hendak menanyakan sesuatu lagi, tetapi seruan Ryeowook memotongnya. “Astaga itu Kyukyu! Dia datang bersama Seulgi?”

Mendengar nama ‘Kyuhyun’ disebut, Aerin langsung mengikuti arah pandang Ryeowook.
Ia melihat Cho Kyuhyun dan seorang gadis baru saja memasuki pintu. Aerin mendengus ketika melihat tangan Seulgi menggandeng lengan Kyuhyun ringan, seolah ia sudah sering melakukannya.

Kenyataan itu, entah kenapa membuatnya hatinya nyeri.

Kedua mata Kyuhyun kini sedang menatap Aerin dari kejauhan, meskipun gadis itu tak menyadarinya. Malam ini, Kim Aerin terlihat memukau dengan dress biru safir selututnya. Rambut gadis itu sebagian dijalin ke belakang dan diikal di bagian ujungnya, membuatnya seratus kali lebih cantik.

“Oppa, ayo ambil minuman,” suara Seulgi memecahkan lamunannya. Ia merasakan dirinya mengikuti Seulgi ke meja bartender; tempat Aerin berada.

“Oi, Kyukyu, kau datang bersama Seulgi?” tanya Eunhyuk dengan nada terkejut.

Kyuhyun tak menjawab. Matanya masih menatap Aerin yang entah kenapa terlihat murung, dan hanya melirik ke arah Kyuhyun sekilas sebelum ia meneguk jus jeruknya hingga tandas.

Jujur saja Aerin tidak mengerti mengapa tiba-tiba moodnya berubah ketika melihat Cho Kyuhyun berjalan bergandengan dengan Seulgi.

Ayolah, dia bukan siapa-siapa dan Cho Kyuhyun bebas menggandeng tangan gadis manapun.

Tapi kenapa dirinya merasa seperti anak belasan tahun yang sedang dilanda cemburu?


Apa? Cemburu?

Aerin buru-buru menepis pikiran konyol itu.

“Aerin-a, kau di sini rupanya,” Aerin merasakan seseorang menepuk pundaknya, dan ia menghela napas lega ketika mendapati Hyun-Mi menghampirinyadengan Donghae di sampingnya, tentu saja. Keduanya menatap Kyuhyun dan Seulgi dengan tatapan terkejut.

“Kau datang bersama Seulgi, Kyu?” tanya Donghae hati-hati sembari melirik ke arah Aerin, namun ia mendapati gadis itu hanya berekspresi datar.

Kyuhyun menggeleng. “Hanya bertemu di depan pintu,” jelasnya singkat.

Donghae hanya bergumam tanda mengerti. Lalu ia berkata, “Seulgi-a tadi teman-temanmu sedang mencarimu,” ia menunjuk ke seberang ruangan, dan segera setelah itu Seulgi memutuskan untuk menghampiri teman-temannya. Eunhyuk dan Ryeowook pun sudah pergi untuk berburu makanan.

“Aku dan Hyun-Mi masih harus berkeliling. Kyuhyun-a, kau temani Aerin-ssi di sini saja ya,” celetuk Donghae santai, lalu menggandeng kekasihnya ke arah kerumunan tamu.

Kini hanya tersisa Kyuhyun dan Aerin. Keduanya terdiam canggung.

“Kau ingin pesan minum lagi?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Aerin menggeleng. “Tidak, terima kasih.”
Kyuhyun tertegun. Apakah hanya perasaannya saja atau memang Kim Aerin menjawab petanyaannya dengan nada ketus? Ia berdeham. “Kalau begitu mau ikut denganku? Sejujurnya aku tak terlalu suka keramaian. Rooftop restoran ini cukup bagus.”

Sebenarnya, mengobrol bersama Cho Kyuhyun adalah pilihan terakhirnya saat ini. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Aerin akhirnya menyetujui ajakan pria itu. Bukan apa-apa. Ia juga butuh menghirup udara segar sebentar, dan kemudian ia akan masuk lagi dan mencari Hyun-Mi.

Dan lagi… sepertinya keduanya juga harus segera menyelesaikan masalah di antara mereka.
***
Desau angin malam mengisi kesunyian di antata mereka. Keduanya hanya terdiam, memandangi langit malam yang berawan, hanya ada bulan yang bersinar redup di atas sanaㅡterlihat kesepian tanpa ada bintang-bintang yang menemani.

Aerin sedikit terlonjak ketika ia merasakan sesuatu menyelimuti tubuh bagian atasnya. Kyuhyun menyematkan jasnya di sana. “Ini sudah memasuki musim gugur. Kau bisa kedinginan.”

“G-gomawoyo,” kata Aerin terbata. Jas Kyuhyun yang kini melingkari bahunya membuatnya terasa lebih hangat, ditambah aroma musk pria itu yang menusuk indera penciumannya tanpa ampun. Aerin merasa seolah pria itu sendiri yang sedang memeluknya, dan hal itu membuatnya bertambah gugup.

“Apakah kau sudah menemukan jawabannya?” tanya Kyuhyun tiba-tiba, sedikit kegugupan terselip dalam suaranya.
Aerin berusaha menahan ekspresinya agar tetap datar. Ia tahu mereka akan membahas hal ini pada akhirnya. Namun, ia hanya terdiam. Banyak hal yang ingin dikatakannya pada pria itu, tetapi ia tak tahu harus mulai dari mana. Ok, baiklah, ujarnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri. Aerin menghela napas.

“Kenapa kau menyukaiku?”

“Sederhana,” sembari tersenyum, Kyuhyun memandang jauh ke langit malam. “Aku menyukaimu karena kau adalah kau.”

Kini ia berpaling ke arah Aerin. Mata hazelnya menatap gadis itu lembut. “Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu tersenyum. Well, aku tidak percaya dengan istilah ‘cinta pada pandangan pertama‘ jadi waktu itu aku pikir aku hanya sekedar kagum atau bagaimana. Lalu setelah itu aku mulai merasa aneh. Aku ingin bertemu denganmu lagi dan lagi. Ketika aku meninggalkan Gwangju, aku selalu merindukanmu, bayanganmu yang sedang tersenyum itu selalu terlintas di otakku, kau tahu? Aku bahkan sampai tidak bisa melakukan hal dengan benar karena selalu memikirkanmu,” Kyuhyun terkekeh ketika mengingat betapa tidak warasnya dia saat itu.

“Lalu kita bertemu lagi di Seoul, dan sejak itu aku bertekad untuk mendekatimu secara perlahan, meskipun aku yakin kau tak pernah menyadarinya. Hmm, kukira jika aku menceritakan seluruh kronologinya akan panjang sekali. Intinya, aku menyukaimu Kim Aerin-ssi. Tak ada alasan apapun. Aku menyukaimu karena memang hanya kau yang berhasil membuatku merasakan perasaan itu.”

Aerin masih terdiam. Kedua manik matanya sejak tadi tak bisa berpaling dari mata hazel Kyuhyun, dan ia menemukan kejujuran dari tatapan hangat pria itu.

“K-kalau begitu aku juga akan mengatakan sesuatu,” ujar Aerin ketika berhasil menemukan pita suaranya. Ia menghela napas lemah. Mencoba menguatkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya.

“Kurasa aku sudah menemukan jawabannya. Dan kurasa aku juga menyukaimu, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun tertegun. Ia tak mempercayai pendengarannya sendiri.

“Aku merasa aneh jika kau tak adamaksudku, akhir-akhir ini ketika kau tak pernah lagi datang ke apartmentku. Aku merasa kesal ketika kau tersenyum kepada Seulgi-ssi. Aku juga berdebar ketika kau melakukan hal-hal seperti

Aerin menghentikan kalimatnya ketika merasakan Kyuhyun menariknya ke dalam pelukannya. Lengan pria itu melingkari punggungnya, dan Aerin bisa merasakan Kyuhyun mengecup puncak kepalanya ringan.

Oh, demi hidung Squidward, Aerin merasa jantungnya akan meledak sekarang juga.

Seolah tak cukup sampai di situ, Kyuhyun melepas pelukannya, dan kini kedua tangannya menangkup pipi Aerin. Manik mata Kyuhyun memerangkap Aerin lagiuntuk kesekian kalinya. Dan Aerin juga tak berniat untuk melepaskan diri. Ia selalu suka ketika Kyuhyun menatapnya. Pria itu memiliki tatapan yang hangat, membuat hatinya berdesir.

Saranghae, Aerin-a.”

tbc

Advertisements

One thought on “[CHAPTER 13] Be My Girl!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s