A Little Distraction

image

Kedua iris kecokelatannya tak berkedip mengamati pemandangan berjalan yang tersaji dari jendela. Kumpulan pepohonan hijau, sinar matahari sore yang mengintip dari celah-celah dedaunan, dan juga semburat-semburat jingga yang mulai menghiasi angkasa, sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Sial sekali, kursi di sampingnya kosong, sehingga kegiatan yang bisa dilakukannya hanyalah menatap jendela seperti orang yang sedang merana. Ugh, Joanna benar-benar berharap bus ini cepat sampai ke tempat tujuan mereka. Ia sudah hampir mati bosan di sini.

Sementara lagu-lagu era 90-an mengudara dari stereo bis, Joanna mengeraskan volume i-Pad-nya ketika giliran If You’re Not The One yang mengalun melewati headsetnya. Matanya baru mulai terpejam ketika dia mendengar bunyi hempasan cukup keras dari kursi di sebelahnya.

Joanna mengerjap sekali, membiasakan matasekaligus keterkejutannyaterhadap sosok yang kini sedang memamerkan senyum lebar kepadanya.

Oh, astaga. Itu Leo.

Serta merta, kegugupan langsung melanda diri Joanna.

Tanpa aba-aba, Leo menarik salah satu cabang headset Joanna, dan menempelkannya di telinga, membuat gadis itu mengernyit sebal. “Mau apa kau, Leo?”

“Aku hanya ingin duduk bersamamu, tidak boleh?”

Joanna tidak menjawab, ia lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah jendela bus. Walaupun sebenarnyaJoanna akui, wajah tampan Leo jauh lebih menarik daripada langit senja kesukaannya itu.

“Selera musikmu aneh sekali, sih,” gumam Leo heran. “Kau suka sekali, ya, dengan ballad?”

Joanna berpaling pada cowok itu sembari mendengus keras. “Kalau tidak suka, lepaskan saja headsetnya,” jawab gadis itu datar. “Lagipula, ada belasan anak lain di sini, kenapa kau justru menghampiriku, sih?”

“Aku ingin menemanimu, bodoh,” Leo menoyor samping kepala gadis itu main-main. “Berterimakasihlah, sebab aku yakin hanya aku yang kaukenal di bus ini.”

Joanna meringis. Memang benar, di dalam bus ini hanya Leo yang benar-benar ia kenal. Sementara anak-anak yang lain, ia hanya sebatas tahu nama mereka saja.

Semua berawal dari perjalanan wisata sekolah. Ia sudah senang setengah mati, berharap bisa satu bus dengan teman-teman sekelasnya, tetapi kenyataannya, bus diacak, dan ia terpisah dari teman-temannya. Well, sebenarnya ada satu yang tersangkut di bus yang sama dengannya, sih. Ya si Leo itu.

Tapi mengapa juga harus Leo? Mengapa bukan yang lainnya saja, sih?

Tubuh Joanna tiba-tiba menegang ketika ia merasakan sesuatu yang berat menimpa pundaknya. Sialan, umpatnya dalam hati. Itu kepala Leo.

“A-apa yang kau lakukan? Singkirkan kepalamu, Leo,” lirih Joanna gugup.

“Aku mau tidur,” jawab Leo dengan mata yang sudah terpejam. Bulu kuduk Joanna meremang ketika ia merasakan rambut Leo menggelitik lehernya. “Biarkan saja begini,” cowok itu menguap dan mulai mencoba berkelana ke alam mimpi.

Setelah itu Joanna tidak berani protes lagi. Ia ikut memejamkan kedua matanya. Mencoba untuk rileks (terbukti sangat sulit karena kehadiran makhluk bernama Leo di sampingnya ini) dan menikmati sensasi kupu-kupu yang begitu asing di perutnya. Joanna harap, debaran jantungnya yang berdetak begitu menggila tidak sampai ke telinga Leomengingat jarak mereka yang begitu dekat.

Oh, ya, ampun, saat ini bahkan Joanna berharap bis ini tak akan pernah berhenti.

 
 
ㅡfin.

orific yang based on true story HAHAHA (oct.2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s