Gravity

Pertemuan ini sama sekali tak pernah kuduga. Siapa yang menyangka orang yang paling mati-matian kuhindari selama beberapa tahun silam, sekarang justru satu kampus denganku?

Memang, sih, berbeda fakultas. Tapi, demi celana Spongebob! Fakultas kami hanya berjarak sekian meter, atau dalam kata lain, sangat dekat.

Dan entah sial atau beruntung, hari ini aku bertemu dengannya di lapangan parkir. Oh, ya ampun.

“Hai, Jo, aku tak menyangka kita akan bertemu di sini,” sapa cowok itu dengan senyum canggung. Mungkin ia juga sama terkejutnya denganku.

“Hai, Leo,” aku tersenyum tipis sembari menyeka keringat yang mengalir di pelipisku. Okey, kalian jangan salah paham. Aku bukannya berkeringat karena gugup bertemu cowok ini lagi, tapi memang sinar matahari siang ini sangat menyengat. Walau, iya, deh, kuakui, aku memang gugup berat ketika melihat Leo. “Apa kabar?” tanyaku basa-basi. Habis, aku tidak tahu lagi harus bicara apa.

I’m fine, thanks,” jawabnya enteng. “Dan kulihat kau juga baik-baik saja?” terselip nada ragu dalam pertanyaannya barusan, dan aku juga bukan seorang gadis yang tidak peka.

Aku tahu makna tersirat dari pertanyaannya barusan.

Kulihat kau juga sudah baik-baik saja dan tidak mengingat kejadian kita dulu? Itulah yang kuyakini ingin Leo tanyakan padaku.

Berhubung tak mau terlihat menyedihkan di depannya, aku mengangguk pelan.

Iya, aku memang gadis munafik kelas berat. Dan bodoh, tentu saja. Mempertahankan seseorang yang tidak pernah mencintaimu, itu tindakan bodoh, bukan? Meski begitu, tetap saja aku selalu gagal untuk menghapus bayangan cowok itu.

Hubungan kami hanya berjalan dengan singkat dulu. Singkat, namun indah dan berharga bagiku. Yah, hanya bagiku. Bagi Leo, aku mungkin hanya sepenggal kecil dalam cerita hidupnya. Penggalan yang akan dengan mudahnya terlupakan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.

Sementara untukku? Namanya sangat membekas. Bahkan hingga tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu juga, aku berusaha menghindarinya, walau hal tersebut sangat sulit kendati kami satu SMA.

Lalu kini aku bertemu dengannya lagi. Di waktu, situasi dan kondisi yang berbeda. Namun, ada satu hal yang ternyata masih sama. Aku masih mencintai Leo. Sampai sekarang.

Rupanya, sejauh apapun aku berlari dan menghindarinya, Leo masih saja menarikku kembali walau hanya dengan presensinya.

Karena dialah gravitasiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s